Cara Menghitung Rasio Likuiditas Perusahaan Secara Benar

Cara Menghitung Rasio Likuiditas Keuangan Perusahaan yang Benar

Semua perusahaan harus mengetahui cara menghitung rasio likuiditas. Hal ini sangat bermanfaat agar perusahaan tersebut mengetahui bahwa keadaan keuangannya dalam kondisi sehat.
Perusahaan yang baik adalah yang tidak punya banyak memiliki piutang.

Sedangkan perusahaan dengan hasil penghitungan rasio likuiditas yang tinggi juga tidak termasuk sebagai kategori perusahaan yang baik.Misalnya setelah dihitung rasio likuiditasnya, suatu perusahaan memiliki banyak modal yang tersimpan dikasnya.

Hal di atas bisa digolongkan pada perusahaan yang tidak produktif. Sebab perusahaan tersebut tidak dapat memanfaatkan modalnya secara efektif. Jika modal itu digunakan dengan baik maka perusahaan sudah mengoptimalkan kasnya.

Perusahaan sangat bertanggungjawab akan kesehatan kasnya. Hal ini karena perusahaan harus dapat memajukan bisnisnya serta mensejahterakan para karyawannya. Cara menghitung rasio likuiditas ini ada tiga yaitu current ratio, quick ratio, dan cash ratio.

Perusahaan yang paham cara penghitungan rasio likuiditas maka akan mengoptimalkan seluruh sumber daya perusahannya dengan sebaik-baiknya.
Selain itu, dengan rasio likuiditas perusahaan bisa mengevaluasi laporan keuangannya secara berkala. Rasio likuiditas juga bisa dijadikan patokan oleh perusahaan untuk melakukan tindakan-tindakan agar kinerja perusahaan lebih optimal ke depannya.

Selain mengetahui ketiga rasio likuiditas di atas, perusahaan juga harus paham tentang standar rasio likuiditas, faktor yang mempengaruhi likuiditas, dan fungsi serta tujuan rasio likuiditas.
Standar rasio likuiditas memerlukan penggunaan anggaran kas. Selanjutnya, anggaran kas tersebut dihubungkan dengan kewajiban lancar dan kas serta aset lancar lainnya.

Sedangkan faktor yang memengaruhi likuiditas yaitu kemampuan perusahaan untuk melunasi utangnya pada saat jatuh tempo. Rasio likuiditas ini memiliki fungsi dan tujuan yaitu untuk memberikan ukuran likuiditas yang mudah dan cepat digunakan.



1. Pengertian Rasio Likuiditas,

Rasio likuiditas perusahaan bisa diartikan sebagai rasio keuangan yang dapat digunakan untuk membantu mengantisipasi keadaan kas serta aset usaha di masa yang akan datang.

2. Komponen Rasio Likuiditas,

Sedangkan komponen atau jenis jenis rasio likuiditas terdiri dari tiga jenis yaitu pertama current ratio atau rasio lancar. Kedua quick ratio atau rasio cepat. Yang terakhir cash ratio atau rasio kas.

Metode mengukur rasio likuiditas

3. Cara Menghitung Rasio Likuiditas.

Cara menghitung rasio likuiditas ini harus dipahami oleh semua perusahaan. Hal ini sangat bermanfaat agar kondisi keuangan dari perusahaan tersebut selalu sehat. Di bawah ini adalah penjelasan dan rumus rasio likuiditas tersebut.

A.Current Ratio atau Rasio Lancar,

Rasio lancar adalah cara menghitung likuiditas yang sederhana dibanding cara yang lain. Sistem penghitungan rasio lancar berguna dalam mengetahui tingkat kesanggupan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, dengan aktiva dari perusahaan yang likuid pada saat ini atau current asset (aktiva lancar).

Aktiva lancar yaitu aktiva yang bisa ditukarkan dengan kas dalam jangka waktu setahun. Ada pun cara menghitung current ratio adalah seperti berikut ini:
Aktiva lancar (current asset) : utang lancar (liabilities)

Misalnya suatu perusahaan mempunyai aktiva lancar senilai Rp 5.000.000 serta kewajiban lancar senilai Rp 2.500.000 maka current ratio-nyaadalah:
5.000.000 : 2.500.000 = 2,0

Sebuah perusahaan dikategorikan memiliki kemampuan dalam melunasi kewajibannya apabila memiliki angka rasio lancar lebih dari 1,0 kali. Sebab perbandingan aktiva lebih besar dari pada kewajibannya. Seandainya, rasio lancar dari perusahaan hasilnya di bawah 1,0 kali maka kemampuan perusahan dalam melunasi hutangnya diragukan.

Selanjutnya, jika rasio lancar dari perusahaan di atas 3,0 bukan berarti perusahaan tersebut bagus keuangannya. Kemungkinan besar perusahaan itu tidak menggunakan modalnya dengan baik, atau tidak mengoptimalkan alokasi aktiva lancarnya, atau tidak memanfaatkan aktiva lancar secara efisien.

B.Quick Ratio atau Rasio Cepat,

Rasio cepat atau quick ratio yaitu penjelasan lebih lanjut dari rasio lancar atau current ratio. Penghitungan dari rasio ini yaitu menggunakan aktiva lancar yang paling likuid. Lalu penghitungan itu dibandingkan dengan kewajiban lancar.

Sedangkan inventaris tidak termasuk pada penghitungan rasio cepat karena sulit ditukarkan dengan kas. Dengan begitu, rasio cepat bisa dibilang jauh lebih ketat dari pada rasio lancar.

Contoh penghitungan quick ratio yaitu:
Sebuah perusahaan mempunyai aktiva lancar sebesar Rp 10.000.000, lalu mempunyai inventaris Rp 1.000.000′ serta memiliki kewajiban lancarnya Rp 3.000.000. rasio cepatnya yaitu:
Rp 10.000.000 – 1.000.000 : 3.000.000 = 3,0

Penjelasannya, hasil dari penghitungan rasio cepat bila lebih dari 1,0 berarti perusahan dalam keadaan baik untuk memenuhi kewajibannya. Akan tetapi, bila nilainya di atas 3,0 belum tentu keadaan keuangan likuiditas perusahaan tersebut bagus. Perusahaan mungkin tidak memanfaatkan modalnya dengan baik sehingga uangnya tidak produktif.

Penyebab yang lainnya adalah perusahaan memiliki piutang yang tinggi. Oleh karena itu, quick ratio bisa dijadikan sebagai bahan acuan yang lebih baik. Hal ini karena rasio cepat berfokus pada aktiva lancar yang dengan mudah dapat diubah menjadi kas.

C.Cash Ratio atau Rasio Kas,

Cara menghitung rasio likuiditas berikutnya yaitu rasio kas atau cash ratio, yaitu cara menghitung likuiditas dengan melibatkan kas perusahaan. Penghitungan menggunakan cara ini memiliki manfaat yang mirip dengan quick ratio atau current ratio.

Maksudnya untuk mengetahui kemampuan sebuah perusahaan agar dapat melunasi kewajiban jangka pendeknya dan menjadikan kas sebagai acuannya. Di bawah ini merupakan contoh penghitungan likuiditasnya:


Rasio kas atau cash ratio = (kas + surat berharga) : utang lancar
Contohnya sebuah perusahaan punya kas senilai Rp 2.500.000, lalu mempunyai surat berharga Rp 1.500.000, serta memiliki kewajiban lancar 2.500.000. Maka penghitungan kas rasionya yaitu:
(2.500.000 + 1.500.000) : 2.500.000 = 1,6

Namun hasil dari rasio kas kurang realistis. Maka dari itu, perusahaan jarang menggunakannya. Di samping itu, nilainya tidak mudah untuk dipertahankan.

Perusahaan yang memiliki jumlah kas berlebih dan mampu menutupi kewajiban lancar maka sering kali suka dianggap sebagai kas yang tidak produktif. Dengan kata lain kas itu tidak dimanfaatkan dengan baik.

Nilai likuiditas perusahan biasanya dihitung dari 5 jenis item berikut ini yaitu kas, aktiva lancar, utang lancar, surat berharga, dan persediaan. Dengan demikian, perusahaan sangat memerlukan proses pencatatan akuntansi dengan cermat dan tepat untuk mengetahui nilai akhir dari penghitungan ke-5 item tersebut.

Banyak sekali software akuntansi yang memberikan bantuan untuk menghitung pencatatan akuntansi tersebut. Pertanyaannya apakah kualitas dan ketepatan dari software akuntansi itu sudah valid? Maka dari itu, semua perusahaan yang memerlukan software akuntansi harus bisa memilih yang tepat.

Perusahaan bertanggungjawab untuk mengetahui cara menghitung rasio likuiditas agar keuangannya sehat. Selain itu, perusahan tersebut juga disiplin melakukan tindakan-tindakan yang mendukung terhadap tercapainya likuiditas yang sehat tersebut.

%d blogger menyukai ini: