Pembahasan Lengkap Contoh Kasus Obsesif Kompulsif dan Solusinya

Pembahasan Lengkap Contoh Kasus Obsesif Kompulsif dan Solusinya

Pembahasan Lengkap Contoh Kasus Obsesif Kompulsif dan Solusinya

1. Pengertian Obsesif Kompulsif

Pembahasan Lengkap Contoh Kasus Obsesif Kompulsif dan Solusinya .Pengertian obsesif kompulsif yaitu gangguan kecemasan yang merangsang seseorang melakukan tindakan tertentu secara berulang-ulang.Sikap yang obsesif tersebut dilakukan di luar kendali walaupun mereka menyadari kalau perihal tersebut dapat mengganggu serta tidak masuk akal.

Tindakan berulang-ulang (kompulsif) disebut sebagai cara buat mengurangi kecemasannya.Walaupun kecemasan tersebut setelah itu dapat hilang tetapi tidak akan berlangsung dalam waktu lama.Kapanpun perasaan takut diiringi sikap buat melakukan sesuatu berulang-ulang tersebut akan datang lagi.

2. Gejala Obsesif Kompulsif

  • Mempunyai orangtua ataupun anggota keluarga yang mengidap gangguan obsesif kompulsif.
  • Mengalami gangguan kesehatan mental yang lain.Obsesif kompulsif merupakan keadaan yang berhubungan dengan keadaan mental yang lain, seperti gangguan kecemasan,gangguan mental dan penyalahgunaan zat tertentu.
  • Mengalami kejadian traumatis yang membuatnya merasa tertekan secara emosional

3. Contoh Kasus Obsesif Kompulsif dan Solusinya

Contoh kasus obsesif kompulsif dan solusinya dari Andi yang memiliki masalah perilaku tersebut.Masalah yang sedang dihadapinya adalah ketidakmampuannya untuk mengontrol pemikiran yang tidak rasional.Selain itu dia juga memiliki perilaku berulang-ulang yaitu mengusap handbody di telapak kaki yang dilakukannya dengan waktu yang lama.Bagaimana tekhnik penyembuhan jika Andi berkonsultasi dengan psikiater.

A. Tahap Pertama

Sesi atau tahap awal yaitu Building raport dan teknik relaksasi. Pada sesi ini penderita (Andi) mengantarkan kalau mempunyai kemauan buat merubah pemikiran serta sikap yang biasa dikerjakannya ialah mengusap telapak kakinya dengan handbody secara berulang-ulang. Penderita melakukan latihan relaksasi dengan tujuan supaya merasa rileks serta nyaman ketika berlangsungnya pengobatan.

B. Tahap Kedua

Sesi kedua yaitu penetapan tujuan pengobatan bersama pengidap dan latihan relaksasi.Psikiater mengajak penderita buat menetapkan tujuan bersama-sama supaya penderita mempunyai komitmen selama penerapan pengobatan.Penderita menjelaskan kalau permasalahan yang sedang dihadapinya merupakan ketidakmampuannya dalam mengontrol pemikiran yang tidak rasional dan sikap yang dikerjakannya dengan waktu lama secara berulang-ulang.Penderita menyetujui buat dikerjakannya pengobatan selama beberapa hari ke depan.

C. Tahap Ketiga

Sesi ketiga ialah metode cognitive restructuring.Psikiater mengumpulkan informasi tentang teknik penderita buat menangani permasalahan di masa lalu atau saat ini. Setelah itu psikiater dan penderita mendiskusikan kasus,bagaimana proses berpikir yang memfokuskan dan bagaimana pikiran mempengaruhi kesejahteraannya.

Langkah berikutnya psikiater membantu penderita buat mengevaluasi keyakinan penderita tentang pola-pola pikiran yang dimiliki olehnya. Setelah itu psikiater membantunya buat belajar mengganti kepercayaan serta anggapan yang tidak rasional.Psikiater mengulang kembali proses berpikir secara rasional, kali ini dengan mengarahkan pada penderita tentang aspek-aspek penting dengan memakai contoh-contoh di kehidupan nyata.

Psikiater membantu pengidap buat membentuk tujuan-tujuan yang masuk akal yang akan dapat dicapai oleh penderita. Pada tahap ini penderita masih mempunyai pemikiran yang obsesif, tetapi semakin hari pemikiran yang lebih rasional bisa muncul buat mengambil alih pemikiran yang obsesif.Penderita cukup mampu memilih pemikiran-pemikiran tidak rasional yang selama ini dimilikinya.Penderita meyakini kalau dengan tidak mengusap telapak kakinya dengan handbody tidak akan menimbulkan telapak kakinya kotor serta dipenuhi dengan bakteri.

D. Tahap Empat

Tahap keempat yaitu metode cognitive restructuring.Pada tahap ini penderita mampu memilih pemikiran-pemikiran tidak rasional yang selama ini dimilikinya.Penderita meyakini kalau dengan tidak mengusap telapak kakinya dengan handbody tidak menimbulkan telapak kakinya kotor dan dipenuhi dengan bakteri.

E. Tahap Kelima

Sesi kelima ialah metode exposure with response prevention. Dalam sesi ini penderita dihadapkan pada kepercayaan kalau penderita melakukan sikap yang biasa dikerjakannya tetapi penderita dicegah buat tidak melakukan sikap tersebut.Bila penderita sanggup menghindari buat tidak melaksanakan sikap yang biasa dikerjakannya serta nyatanya suatu yang seram tidak terjadi.

Perihal ini bisa membantu dalam mengubah kepercayaan penderita terhadap sikap yang biasa dikerjakannya.Psikiater mengajak penderita buat berlatih melawan sikap kompulsifnya dengan mempraktikkan relaksasi serta metode cognitive restructuring juga.Pada tahap ini penderita kesulitan buat melawan sikap yang biasa dikerjakannya.Perubahan penderita bisa dilihat dari menyusutnya frekuensi sikap secara berulang-ulang dari hari ke hari.

F. Tahap Keenam

Sesi keenam ialah teknik exposure with response prevention.Pada tahap ini penderita cukup mampu melawan buat tidak melakukan sikap yang biasa dikerjakannya serta frekuensi penderita melakukan sikap yang biasa dikerjakannya sedikit menyusut.Ketika penderita berkeinginan buat mengusap telapak kakinya dengan handbody, penderita melakukan kegiatan lain sehingga memiliki banyak kegiatan.

G. Tahap Ketujuh

Sesi ketujuh yaitu teknik exposure with response prevention.Pada tahap ini penderita cukup mampu melawan buat tidak melakukan sikap yang biasa dikerjakannya serta frekuensi pengidap melakukan sikap yang biasa dikerjakannya sedikit menyusut dari tahap keenam.Penderita tidak merasakan risau lagi sebab selalu mempraktikkan relaksasi setiap kali merasa risau.

H. Tahap Kedelapan

Sesi kedelapan ialah terminasi.Psikiater bertanya dan memberikan peluang pada penderita untuk berkata dan mengatakan perasaannya selama proses intervensi berlangsung.Penderita menjelaskan kalau pemikiran-pemikiran tidak rasional yang dimilikinya saat ini dapat dirubah menjadi pemikiran yang rasional.Penderita tidak lagi memiliki pemikiran kalau menggunakan handbody di telapak kaki tidak menimbulkan telapak kakinya penuh dengan kotoran dan bakteri.Sikap mengusap telapak kaki dengan handbody secara berulang-ulang yang dilakukan sudah mulai menurun frekuensinya.




Demikianlah pembahasan lengkap contoh kasus obsesif kompulsif dan solusinya .Saya berharap artikel ini dapat menambah wawasan pembaca.Sampai jumpa di artikel selanjutnya.


%d blogger menyukai ini: